Pages

Subscribe:

Rabu, 10 September 2014

Update Pembangunan Masjid Ulul Albab (10 September 2014)

Assalamualaykum. Wr. Wb. ^^
apa kabar akhi dan ukhti semuanya yang insyaAllah selalu dicintai Allah? semoga selalu ada kabar baik dari kalian semua :)
sudah lama tidak ada update terbaru tentang pembangunan Masjid Ulul Albab, kini admin ingin sedikit memberikan informasi terbaru.

Q: kok namanya jadi Masjid Ulul Albab sih? Bukannya mushola ya?
A: ya, kali ini insyaAllah nama Mushola Ulul Albab akan berubah menjadi Masjid Ulul Albab. dikarenakan anggaran dana pembangunan mushola yang bisa dikatakan sudah lebih dari setengah milyar, maka saran dari pembina untuk dana yang sebanyak itu Mushola Ulul Albab sudah bisa dibilang menjadi masjid. sehingga, insyaAllah nantinya nama mushola akan dirubah menjadi Masjid Ulul Albab. alhamdulillah :))

berikut update foto terbarunya:




Alhamdulillah sekarang sudah memasuki tahap pengerjaan atap plafon.

Sekedar informasi tambahan, sekarang pembangunan masjid dalam tahap kejar target. dikarenakan rencananya pada saat ospek calon taruna akhir bulan september ini, masjid ini sudah bisa digunakan. ya walaupun belum bisa menggunakan fasilitas secara utuh, setidaknya direncanakan masjid ini sudah bisa digunakan oleh calon taruna ikhwan untuk sholat berjamaah. Lalu untuk calon taruna yang akhwat tetap akan menggunakan mushola lama untuk melaksanakan sholat berjamaah.

Dalam hal ini, kami selaku panitia masih mengharapkan sokongan dana seikhlasnya dari akhi dan ukhti sekalian guna mendukung pembangunan Masjid Ulul Albab agar bisa segera digunakan secara maksimal. 

Sumbangan dana dapat dikirim ke Rekening BNI 0274459788 a.n. Rizky Muhammad Rahman.

berikut link untuk surat permohonan dana, silakan diupload. semoga ini bisa menjadi amal jariyah untuk akhi dan ukhti sekalian. aamiin.
Lebih Lanjut... »»  

Kamis, 24 Juli 2014

Update (Lagi) Pembangunan Mushala Ulul Albab (23 Juli 2014)

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..
Haaaalooooo, admin kembali lagi ^^

Kali ini, admin membawa kabar berita terbaru yaitu... toa mushala sudah dipasang lho~~
Pemasangan toa ini melengkapi tingkat penyelesaian atap terakhir sebelum Idul Fitri.
Berikut update foto terbarunya :



Tambahan, ini ada foto tampak bagian dalam kerangka atapnya :



Dan sebagai tambahan lagi nih (kebanyakan tambahan ya posting kali ini, haha), admin mau buka ladang amal buat para pembaca sekalian... yaitu dengan cara memberi sumbangan dana bagi pembangunan mushala kita tercinta kita ini. Adapun yang ingin menyumbang dana untuk pembangunan mushala kita ini, ga harus datang langsung ke lokasi pembangunan terus bantuin ngecor *lho. 

Bisa lho bantuan dananya dikirim via transfer ke akhi Rizky Muhammad Rahman di rekening BNI, nomor rekening 0274459788.

Ayo yang rezekinya lagi banyak, dan mumpung masih bulan puasa... mari perbanyak amal ibadah kita ^^

Sekian dulu update pembangunan dari admin. Sampai bertemu di lain kesempatan :)

Takbir!
Allahu Akbar!!

Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...
Lebih Lanjut... »»  

Kamis, 17 Juli 2014

Update Pembangunan Mushala Ulul Albab (18 Juli 2014)

Assalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...
Apa kabar saudara semuanya? Semoga baik-baik saja yaa :)

Admin kali ini bawa berita update terbaru soal pembangunan mushala lhoo. Setelah proses pengecoran yang dibantu oleh saudara taruna STMKG, alhamdulillah kini pembangunan mushala telah mencapai kemajuan sampai ke taraf atap selesai, haha. Kerangka atap sudah dipasang, dan atap yang berwarna hijau (wah, warna kesukaan Rasulullah lho itu..) juga mulai dipasang.

Berikut ini foto-foto kegiatan pembangunan mushala. Check them out!

Saat pengecoran atap :





Saat pengecoran atap selesai :





Taraaa, pemasangan kerangka atap mushala ~~



Atap yang sudah mulai dipasang :




Sekian dulu update mushala dari admin y saudara-saudara sekaliaaan.
Tunggu update-update selanjutnya :)

Takbir!
Allahu Akbar!

Akhirul kalam,
Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh..
Lebih Lanjut... »»  

Minggu, 09 Maret 2014

Update (9 Maret 2014)

Assalamu'alaikum wr. wb :)

Berikut ini kami sampaikan update pembangunan terbaru Mushala Ulil Albab STMKG Jakarta.





Pekerjaan teknis yang belum dikerjakan :
1. Pekerjaan atap
2. Pekerjaan pemasangan kanopi alumunium area
3. Pekerjaan pemasangan dinding/pintu kaca
4. Finishing

Laporan dana terakhir :
Saldo awal                                      Rp 150.219.217,00
Pemasukan                                     Rp   42.423.000,00
Pengeluaran                                    Rp   45.637.000,00
Saldo akhir (per 8 Maret 2014)      Rp 146.915.217,00

Sekian.
Wassalamu'alaikum wr. wb :)

Lebih Lanjut... »»  

Selasa, 18 Februari 2014

Gotong Royong Taruna STMKG

Assalamu'alaikum wr wb..

Hai hai saudara muslim sekalian... Hari ini admin mau share kegiatan para taruna/i STMKG yang ngebantuin bapak-bapak tukang pas ngecor atap buat mushala kita kemarin nih. Kegiatannya sih berlangsung pada hari Sabtu, 15 Februari 2014 di lingkungan kampus, mulai dari jam 7 pagi. Dari kemarin-kemarinnya, alat-alatnya udah disiapin termasuk pinjem molen buat ngaduk semen dan persiapan pesen konsumsi buat tenaga-tenaga yang dikerahkan untuk mengecor atap mushala jadi kegiatannya bisa berjalan lancar. Kegiatan berjalan dari jam 7 pagi sampai jam 6 sore dan alhamdulillah atap seluas itu bisa selesai :)

Update foto-fotonya ni :



semangat Pak semangat~

angkat angkat...

ada yang bagian keruk-keruk pasir...

sambung menyambung mengangkat semen...

awas berat embernya hehehe

gotong royong :)

Sementara para akhi melaksanakan pekerjaan yang berat-berat, akhwatnya nyiapin makanan...

Alhamdulillah kegiatan berjalan lancar sampai akhir tanpa suatu halangan yang berarti. Semoga ke depannya terus berjalan seperti ini. :)

Udahan dulu ya share kegiatannya ya. Lain kali admin bawa info lebih banyak soal pembangunan mushala kita ini, so stay updated and stay tuned :)

Takbir! Allahu Akbar!

Wassalamu'alaikum wr wb..


Lebih Lanjut... »»  

Sabtu, 08 Februari 2014

Update Pembangunan Ulul Albab (8 Februari 2014)

Assalamu'alaikum...
Setelah berbulan-bulan, akhirnya admin bisa juga membawa berita perkembangan terbaru seputar pembangunan mushala Ulul Albab yang sedang dibangun di lingkungan kampus STMKG ini. Mohon maaf atas keterlambatannya...

Berikut foto terbaru bangunannya :

Calon lantai :3

Pak, hati-hati ya pak ya..

Pengecekan langsung oleh ketua panitia :D


Sekian dulu update terbarunya. Jika terlampau singkat, admin mohon maaf seluas samudra kepada para pembaca sekalian. Insya Allah mulai hari ini admin bakalan rajin-rajin mengupdate setiap perkembangan dari mushala kita :D

Takbir!
Allahu Akbar!

Wassalamu'alaikum warrahmatullahi wabarakatuh...


Lebih Lanjut... »»  

Rabu, 23 Oktober 2013

Another New

Assalamualaikum Wr. Wb.

alhamdulillah masih bisa dan masih sempat baca blog ini lagi, hehehe...
kali ini, admin mau share desain mushola yang baru...

ini nanti penampakannya insyaallah...














ini penampakan bagian dalam insyaallah....
















Q: apakah nanti ini akan lebih besar atau lebih kecil dibanding sebelumnya???

A: alhamdulillah, musholla ini akan dibangun dengan ukuran 11m x 11m, yang insyaallah berdasar perhitungan kami, sudah mampu menampun 250 orang lebih taruna/i muslim...






dan dalam rangka menuju kesanaaaa... sekarang ini pembangunan sudah mencapai tahaaap...
di dekat kayu itu kemaren ada pohon loh...
dan wadanyon-pun ikut turun tangan membantu menumbangkannya...
beginilah sosok pemimpin yang mau membaur :D

dan ini... insyaallah pondasi ini mampu menjadikan musholla Ulil-Albab yang kuat dan kokoh

dan ini adalah laporan pemasukan dana terakhir 

Q: kenapa menampilkan ini??? ini kan rahasia??!
A: yah, ini untuk transparansi... biar orang tahu kalau kami memiliki dana sekian dari sumber siapa aja... begitu ^_^
alhamdulilah, mungkin ini hanya langkah kecil, tapi insyaallah jika istiqomah, maka ini mampu menunjukkan langkah yang lebih besar lagi... 
berkaca pada para sahabat yang pada zaman without nanotech (zaman dulu, belum canggih), mereka mampu membawa ISLAM pada masa-masa keemasan, lalu kita yang sudah dijaman more than nanotech (canggih beud), kenapa tidak mampu?
semakin canggih halang rintang pasti semakin canggih juga, tapi bukan berarti kita sebagai umat tidak mampu kan...
ini perjuangan kecil di satu kampus kecil, yang insyaallah mampu memotifasi orang-orang ditempat lebih besar...

oh iya, jika ada pembaca yang berminat untuk membangun sebuah rumah disurga, silahkan hubungi kontak berikut:
085720313612 (mujahid 1)


Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)


mohon doa restunya untuk menjadi lebih baik, tidak hanya untuk STMKG, tapi juga untuk seluruh muslim di dunia
Lebih Lanjut... »»  

Sabtu, 21 September 2013

Ada yang Baru Nih...

Assalamualaikum Wr. Wb

afwan sebelumnya, ada beberapa (banyak sih) masalah dengan akun kami, tapi alhamdulillah semuanya sudah kelar...
well oke, sekedar share info terbaru pembangunan mushola Ulil Albab AMG, eh maksudnya STMKG, saat ini sedang dalam tahapan pemasangan pondasi.


dan berikut adalah kunjungan bapak Ka BMKG yang baru


ask: oh iya, tunggu dulu, bukannya postingan sebelum-sebelumnya mengatakan bahwa mushola akan direnovasi, kok malah pasang pondasi???

ans: ah iya, afwan sebelumnya, jadi ada perubahan planing... awalnya memang mushola akan direnovasi, tetapi mengingat mushola yang lama, sebagaimanapun akan direnov, ukurannya tidak akan menjadi lebih besar dan menampung lebih banyak. lagipula letak mushola itu ada didalam dan tidak terlihat dari jalan. yah bukan masalah besar sih, tapi kebanyakan jika melihat perkantoran di Indonesia, mushollanya pasti terlihat dari luar/jalanan, seperti STAN, STIS, dan masih banyak lagi...

ask: trus, mushola yang lama mau diapain?
ans: afwan untuk itu pribadi, kami (admin) masih mencari info juga, insyaallah akan dijadikan Islamic Center, atau tempat latihan marawis dan nasyid biar gak ngeganggu, pokoknya bakal jadi tempat yang bermanfaat, ^_^

okeh well, selain info itu, ada 1 info lagi yang tidak boleh dilewatkan nih
alhamdulillah, pihak kampus telah menyetujui model jilbab untuk taruni seperti gambar dibawah ini (tapi hanya jilbabnya, roknya masih belum)


jika dibandingkan dengan model kemaren yang melilit di leher, itu hanya seperti "membungkus tapi menunjukkan"...
alhamdulilah, mungkin ini hanya langkah kecil, tapi insyaallah jika istiqomah, maka ini mampu menunjukkan langkah yang lebih besar lagi... 
berkaca pada para sahabat yang pada zaman without nanotech (zaman dulu, belum canggih), mereka mampu membawa ISLAM pada masa-masa keemasan, lalu kita yang sudah dijaman more than nanotech (canggih beud), kenapa tidak mampu?
semakin canggih halang rintang pasti semakin canggih juga, tapi bukan berarti kita sebagai umat tidak mampu kan...
ini perjuangan kecil di satu kampus kecil, yang insyaallah mampu memotifasi orang-orang ditempat lebih besar...

oh iya, jika ada pembaca yang berminat untuk membangun sebuah rumah disurga, silahkan hubungi kontak berikut:
085720313612 (mujahid 1)


Barangsiapa membangun untuk Allah sebuah masjid (mushola) walaupun sebesar kandang unggas (rumah gubuk) maka Allah akan membangun baginya rumah di surga. (HR. Asysyihaab dan Al Bazzar)


mohon doa restunya untuk menjadi lebih baik, tidak hanya untuk STMKG, tapi juga untuk seluruh muslim di dunia


Lebih Lanjut... »»  

Minggu, 16 Juni 2013

Lalai... Virusnya jiwa

Salah satu yang jadi penghalang dalam proses tazkiyatun nafs adalah lalai.“ Lalai ” dalam terminologi akhlak dianggap sebagai penghalang, sedangkan “ sadar “ dipandang sebagai sebuah kemestian dalam proses “ tazkiyyatun-nafs “. Langkah pertama dalam sair-suluk adalah manusia harus meyakini bahwa dirinya “ belum sempurna “, karena itu dia harus “ menyempurna “. Dari “ belum sempurna “ ke “ menyempurna “ terdapat gerak perjalanan, artinya ia sedang musafir dan membutuhkan petunjuk untuk sampai pada tujuannya. Mereka yang lalai dan belum mengetahui bahwa dirinya musafir maka ia akan tetap diam pada tempatnya. Sebagaimana Sa’di berkata ;
kita telah melewati kawanan perampok
sebuah istana sedang menanti
yang berangkat, beruntung
yang tinggal, mati
Mereka yang sedang berangkat, tetapi ia tidak mengetahui bahwa dirinya musafir bahkan ia tidak mengetahui bahwa dirinya sedang diintai oleh kawanan perampok. Disaat dirinya tertidur dan terlelap tentunya akan menjadi tawanan perampok. Namun jika ia tetap terjaga dan tetap beranjak, maka ia akan sampai pada tujuan. Syaitan dengan lantang mengatakanلَأَقْعُدَنَّ لَهُمْ صِراطَكَ الْمُسْتَقيمَ saya benar-benar akan (menghalang-halangi) mereka dari jalan-Mu yang lurus ( Al-‘araf ; 16 ).
Mereka yang mengetahui bahwa dirinya musafir. Tentunya, ia akan terus berfikir untuk beranjak. Jika demikian halnya maka dirinya pun akan terus berusaha untuk mencari petunjuk atau nasehat – nasehat tertentu, sebagai bekal dirinya untuk sampai pada tujuannya.
Dalam bahasa Syariat, mereka yang bukan ahli sair-suluk disebut sebagai “ tertidur “ atau “ mabuk “. Yang disebut dengan mabuk adalah mereka yang membungkus akalnya dengan arak. Oleh karena itu, harta-benda, kemasyhuran, kesombongan, popularitas dan semacamnya juga digolongkan sebagai hal – hal yang memabukkan. Karena hal – hal yang disebutkan diatas, membungkus akal manusia dan tidak membiarkan manusia “ sadar “ dan “ bergerak “.
Ala kulli hal, mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ belum sempurna “ sehingga butuh untuk “ menyempurna “, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya “ butuh “ sehingga “ wujud yang tidak butuh pada sesuatu apapun “ akan memenuhi kebutuhannya, atau mereka yang tidak mengetahui bahwa dirinya musafir sehingga ia harus bergerak, maka mereka semuanya digolongkan sebagai orang – orang yang masih dalam kondisi “ tidur “. Pada saat inilah mereka akan digiring pada tempat yang ia tidak inginkan sama sekali. Sebab suka atau tidak diri kita pasti bergerak. Dalam surah Al-anbiya ; 34 وَما جَعَلْنا لِبَشَرٍ مِنْ قَبْلِكَ الْخُلْدَ أَفَإِنْ مِتَّ فَهُمُ الْخالِدُونَKami tidak menjadikan hidup abadi bagi seorang manusia pun sebelummu (Muhammad). Maka jika kamu mati, apakah mereka akan kekal?
Tidak seorangpun didunia ini berada dalam kondisi diam. Dunia bukanlah tempat istirahat, sebagaimana pula alam barzakh dan alam kubur bukan tempat peristirahatan. Jika di tempat kuburan biasa kita ketemukan tulisan “ tempat peristirahatan “, hal ini disebabkan karena hal tersebut dibandingkan dengan dunia, namun barzakh jika dibandingkan dengan qiamat bukanlah tempat peristirahatan, walaupun sebenarnya mereka yang dibarzakh telah melakukan usaha dialam dunia. Akan tetapi selama mereka masih di alam barzakh, mereka masih gelisah dan risau hingga mereka sampai ke surga yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki. Oleh sebab itu, surgalah yang merupakan tempat peristirahatan yang hakiki.
Dalam Munajat Sya’baniyah diisyaratkan tentang “ sadar “ dari “ kelalaian ” اللهم لم یکن لی حول فأنتقل به عن معصیتک الاّفی وقت ایقظتنی لمحبتکwahai tuhanku, kami telah lalai dan kami belum mendapatkan taufik untuk bergerak, hinggasuatu saat Engkau bangunkan kami dengan cintamu .
Namun untuk bangun diperlukan tekad dan usaha tertentu. Anjuran para Nabi ketika sampai ditelinga mereka, tentunya akan membangunkan mereka, sekalipun orang tersebut dalam keadaan tertidur. Tetapi jika tidur mereka sangat berat, anjuran Nabi tersebut tidak akan bisa membangunkanmereka, sebab tidur mereka sangat berat. Oleh sebab itu Allah swt berpesan pada Rasulullah saw: “kamu sekali-kali tiada dapat memperdengarkan (seruanmu) kepada orang yang berada dalam kubur ( surah Fathir ; 22 ). Namun jika seseorang terjaga dan memahami bahwa dirinya harus beranjak, jika ia tetap tidak beranjak artinya ia tinggal dua saat dalam satu kondisi, maka orang ini digolongkan sebagai orang yang merugi, sebagaimana sabda Rasulullah saw: “jika dua harinya seseorang tidak berbeda sama-sekali berarti orang tersebut adalah orang yang merugi”. Maksud dari “ hari “ disini bukan siang dan malam, dan bukan siang yang diperhadapkan dengan malam. Oleh Karena itu, jika dua jamnya bahkan dua detiknya tidak berbeda sama sekali maka orang tersebut termasuk orang yang merugi. Sebab umurnya berlalu begitu saja tanpa mendapatkan apa – apa. Tapi jika seseorang senantiasa mengingat Allah swt, dua menitnya bahkan dua detiknya pun tidak sama. Sebagaimana dijelaskan dalam Al-qur’an : “Dan sebutlah (nama) Tuhanmu dalam hatimu dengan merendahkan diri dan rasa takut, dan dengan tidak mengeraskan suara, di waktu pagi dan petang, dan janganlah kamu termasuk orang-orang yang lalai”. ( Al-‘araf ; 205 ). Setiap saat dirinya semakin dekat kepada Allah swt. Ia mengetahui bahwa tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan selanjutnya adalah “ kekurangan “, sedangkan tahapan saat ini jika dibandingkan dengan tahapan sebelumnya adalah “ kesempurnaan “. Oleh karena itu syarat pertama dalam syair – suluk adalah “ kesadaran “ . dari kesadaran inilah yang akan mengantarkan manusia untuk beranjak, dan dalam musafir dibutuhkan wejangan, kendaraan, petunjuk dan pengetahuan.
LALAI, VIRUSNYA JIWA
Lalai adalah salah satu penghalang menuju Allah swt. Dalam defini agama lalai disebut sebagai “ rijsun “ yang bermakna kotoran dan mengotori. Amirul Mukminin Ali ibn Abi Thalib as berkata ; “ Lalai menyesatkan jiwa “. Lalai membuat jiwa menjadi tersesat.Boleh jadi ada yang beranggapan bahwa perkataan diatas – lalai sebagai kotoran jiwa – hanyalah bersifat majazi. Tapi sebagaimana kita ketahui bahwa manusia memiliki sisi lahiriyah dan juga sisi bathiniyah. Dihari qiamat nantilah akan nampak hal – hal yang bersifat bathiniyah. Dihari qiamat nanti sebagian orang akan dibangkitkan dengan wajah yang penuh cahaya, putih dan bersih, dan sebagian lagi akan dibangkitkan dengan wajah hitam, jelek dan bernanah karena makanan mereka adalah makanan dari nanah dan darah. Sebagaimana dalam surah Haqqah ; 35-37 ِMaka ia tidak memiliki seorang teman pun pada hari ini di sini dan tiada (pula) makanan sedikit pun kecuali dari darah dan nanah yang tidak akan dimakan kecuali oleh orang-orang yang berdosa”. Segala kerugian yang menimpa kita bersumber dari faktor diluar diri kita, akan tetapi “ lalai “ didalam diri kita. Jika dalam diri kita terdapat benteng keyakinan dan kesadaran, maka kita akan terhindar dari nestapa, karena tiap satu kelalaian setara dengan sebuah anak panah. Sebagaimana dijelaskan dengan indah dalam sebuah Hadits ; “ tidak satupun seekor burung yang akan terkena anak panah ketika mereka berzikir mengingat Allah swt. Setiap anak panah yang mengenai tubuh seekor burung atau hewan lainnya, pastilah hewan tersebut dalam keadaan lalai “. Hadits ini selain memberikan muatan pengetahuan dan keyakinan yang cukup tinggi, namun memberikan kita pula unsur tarbiyah. Jangan sampai kita lalai terhadap Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA.
Siapa saja yang lalai dari Allah swt dan juga lalai akan ayat – ayatNYA, tentunya mereka tidak memiliki proses tazkiyatun nafs. Ruh manusia ketika berhadapan dengan kejadian – kejadian, baik yang bersifat indah maupun yang bersifat buruk, tentunya pada saat yang sama ia pun akan merasakan kondisi yang baru, dan kondisi baru tentunya membutuhkan hukum yang baru pula, kemudian akhlaqlah dalam hal ini yang berkompeten dalam memberikan hukum baru tersebut. Seseorang yang lalai terhadap fenomena dirinya, tentunya ia pun tak mampu mempersepsi objek – objek akhlak, selanjutnya ia pun tak mampu menentukan hukum – hukum akhlaq. Kondisini inilah yang kemudian membawanya pada wilayah kemaksiatan tanpa ia sadari. Itulah sebabnya mengapa kita diperintahkan untuk menghindari kelalaian. Imam Shodiq as berkata ; “ jauhilah kelalaian, karena akan merugikan jiwa kalian “.Jika kita menjauhi kelalaian berarti kita telah menjauhi kerugian jiwa.
Hadit diatas sesuai dengan pesan Al-qur’an dalam surah Muhammad saw ; ayat 38 ; “Siapa yang kikir sesungguhnya dia hanyalah kikir terhadap dirinya sendiri”. Dalam ayat ini menjelaskan bahwa mereka yang kikir, pada hakekatnya hanya akan merugikan diri mereka sendiri, mereka berpikir untuk menyimpannya dimasa mendatang tapi pada hakekatnya mereka tidak menyimpannya.
Al-qur’an Al-karim dalam surah Al-baqarah ; 110 Allah swt Berfirman ;”Setiap kebaikan yang kamu usakan bagi dirimu, tentu kamu akan mendapatkannya di sisi Allah. Kemudian Allah swt tidak mungkin khianat kepada apa yang telah dijanjikannya. Kelalaian – kelalaian yang berkaitan dengan harta ataupun semacamnya tentunya akan mengakibatkan kerugian duniawi. Akan tetapi, lalai dari tazkiyah dan lalai dari mensucikan ruh adalah lalai dari jiwa dan akan mengakibatkan kerugian yang sangat besar. Karena kita telah menghilangkan potensi yang ada. Oleh sebab itu Allah swt berfirman;Demi masa, sesungguhnya manusia itu benar-benar berada dalam kerugian”. Itulah sebabnya mengapa terdapat sebagian orang yang terasing dari dirinya sendiri. Syaitan pun pada hakekatnya tidak ada urusan dengan harta, tahta dan keturunan. Urusan syaitan satu – satunya hanya berkaitan dengan keimanan manusia. Jika syaitan memancing jiwa kita dan syaitan berhasil memerangkap jiwa kita, maka pada saat itulah, kaki dan tangan kita terbuka pada hal – hal yang bersifat haram. Akan tetapi tertutup pada hal – hal yang bersifat kebaikan.
Lebih Lanjut... »»  

Hijab

Menjaga kehormatan dan harga diri manusia khususnya kehormatan wanita adalah suatu asas yang telah diterima dalam agama Islam serta dalam seluruh aturan-aturan dan hukum-hukumnya. Dan masalah hijab adalah merupakan salah satu dari perkara tersebut. Al-Quran Karim telah menjelaskan berbagai topik hijab dalam berbagai bentuk, gambaran, dan ibarat yang berbeda-beda. Oleh karena itu, hijab dipandang sebagai suatu kewajiban dalam agama islam dan apabila seseorang mengingkarinya maka dia telah mengingkari satu hukum yang telah diwajibkan dalam agama dan mengingkari kewajiban agama berarti terjerumus di dalam kekafiran. Perlu diketahui bahwa tidak perlu semua aturan-aturan Islam itu dibahas dalam Al-Quran, karena Al-Quran Al-Karim adalah sebuah aturan pokok yang hanya memberikan pembahasan secara global dan masalah-masalah detailnya diserahkan kepada mufassir Al-Quran, yakni Rasulullah SAW  dan para awliya  di mana mereka mengambil sumber dari wahyu Tuhan, di sisi lain juga kebanyakan hukum-hukum tidak dibahas secara detail dalam Al-Quran, akan tetapi dibahas dengan terang dan jelas di dalam fiqih islam. Adapun masalah hijab terdapat beberapa ayat yang dijelaskan dengan detail di dalam Al-Quran, oleh karena itu sebagian orang yang tidak memiliki informasi tentang hijab, mereka menciptakan suatu keraguan dan kesangsian di dalam pikiran wanita sehingga menanyakan “Memangnya hijab juga terdapat dalam Al-Quran?” pertanyaan ini  sampai kapanpun tidak akan pernah tepat, sebab Al-Quran dengan jelas telah membahas topik tentang hijab dan setiap orang yang mengakui dirinya muslim, maka dia tidak boleh mengingkari masalah hijab dalam islam.
Sekarang kita tunjukkan sebagian dari ayat-ayat suci Al-Quran mengenai hijab berikut ini: (Qullilmu’minaati yaghdhudhna min abshaarihinna wa yahpadzna puruujahunna walaa yubdiina ziinatahunna illaa maa dzhara minhaa walyadhribna bikhumurihinna ‘alaa juyuubihinna walaa yubdiina ziinatahunna illaa libu’uulatihinna …) Dan katakanlah kepada perempuan yang beriman, agar mereka menjaga pandangannya, dan memelihara kemaluannya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali yang (biasa) terlihat. Dan hendaklah mereka menutupkan kain kerudung ke dadanya, dan janganlah menampakkan perhiasannya (auratnya), kecuali kepada suami mereka dan ….(QS. An-Nur : 31)
Ayat di atas adalah ayat pertama yang menjelaskan tentang pandangan yang membangkitkan syahwat, dan lelaki serta perempuan dianjurkan untuk menahan pandangannya, sebab pandangan yang tercemari oleh syahwat pada lawan jenis merupakan langkah untuk melakukan dosa dan kerusakan karena itu akar dosa ini harus disingkirkan. Dan telah di jelaskan pula dengan transparan bahwa  memandang aurat orang lain (lelaki, perempuan, muhrim dan non muhrim) adalah dilarang. Topik lain yang perlu diperhatikan pada ayat ini adalah kewajiban menutup leher, dada dan seputar anggota badan wanita yang kebanyakan di jadikan pusat perhatian oleh lawan jenis, demikian juga dalam ayat ini menunjukkan bahwa adanya larangan berhias dan berdandan untuk yang non muhrim, kecuali apa yang telah nampak darinya, dan sambungan dari ayat sebelumnya, dengan jelas telah melarang secara mutlak untuk tidak menunjukkan dan mempertontonkan keindahan diri kepada yang non muhrim, dan kalimat itu adalah; walaa yadhribna biarjulihinna …; yaitu Dan janganlah mereka menghentakkan kakinya agar diketahui perhiasan yang mereka sembunyikan (seperti khalkhal yang di pakai oleh wanita-wanita arab); bahkan badan sampai pergelangan tangan dan juga kaki harus ditutup. Disamping itu ayat ini telah menjelaskan tentang falsafah hijab dan kehormatan menahan pandangan yang di antaranya adalah menghindari terjadinya kesalahan dan kerusakan.
Ayat ke dua yang membahas tentang kewajiban menutup tubuh adalah ayat 59 surah Al-Ahzab yang berbunyi: ”Wahai Nabi! Katakanlah kepada istri-istrimu, anak-anak perempuanmu dan istri-istri orang mukmin,”Hendaklah mereka menutupkan jilbabnya keseluruh tubuh mereka.” Yang demikian itu agar mereka lebih mudah untuk dikenali, sehingga mereka tidak di ganggu.”
Dalam kitab Lisânul Arabi di katakan: Jilbab, yaitu lebih besar dari kerudung dan lebih kecil dari jubah, yang dengan wasilah ini wanita menutupi kepala dan dadanya. Oleh karena itu kata “Jilbâb” dalam surah Al-Ahzab di atas dan kata “Khumur” dalam surah An-Nur dengan jelas menekankan mengenai kewajiban menutup tubuh bagi wanita terhadap non mahramnya. Biasanya “Khumur” menunjukkan pada kewajiban menutup kepala dan dada serta leher dengan sesuatu yang menyerupai kerudung, akan tetapi “Julbaab” adalah sebuah pakaian yang lebih panjang dari kerudung di mana seluruh tubuh tertutupi olehnya; yaitu sesuatu yang menyerupai jubah dan biasanya dipakai oleh wanita-wanita arab.
Hijab adalah wajib bagi semua wanita, dan wanita-wanita yang bertalian dan bersangkutan  dengan kepemimpinan umat harus lebih berhati-hati, sebab mereka akan menjadi tokoh atau panutan terhadap wanita-wanita lain. Dengan demikian baik dalam berbicara, berhadapan dan bertemu dengan masyarakat serta aktivitas lainnya, menjaga hijab sangatlah dianjurkan karena mereka dalam hal ini sangatlah peka dan sensitif. Dari sudut pandang yang lain, kali ini Al-Quran menjadikan istri-istri Nabi sebagai acuan, dan berkata: (Yaa nisaa’annabii lastunna kaahadin minannisaa’i inittaqaitunna falaa takhdha’na bil qauli fayathma’a aladzi fi qalbihi maradhun wa qulna qawlan ma’ruufan). “Wahai istri-istri Nabi! Kamu tidak seperti perempuan-perempuan yang lain, jika kamu bertakwa. Maka janganlah kamu tunduk (melemah lembutkan suara) dalam berbicara sehingga bangkit nafsu orang yang ada penyakit dalam hatinya, dan ucapkanlah perkataan yang baik.” (QS.Al-Ahzab : 32)
Ayat di atas adalah menegaskan tentang bagaimana menghindari terjadinya dosa dan fitnah dan wanita-wanita diharuskan memiliki batas di dalam berbicara dengan yang non  muhrimnya, sebagaimana di dalamnya tidak terlihat berbagai bentuk godaan dan rangsangan sehingga dapat menimbulkan fitnah. Demikan juga mengenai istri-istri Nabi saw dikatakan: (Wa qarna buyuutikunna walaa tabarrajna tabarruja aljahiliyyati al uula). Dan hendaklah kamu tetap di rumahmu dan janganlah kamu berhias dan (bertingkah laku) seperti orang-orang jahiliah dahulu. (QS.Al-Ahzab : 33) Dan juga ayat 53 dalam surah yang sama diketahui sebagai pelengkap tentang kebagaimanaan wanita-wanita menjaga hijabnya dalam bersosialisasi dan mengatakan:( Wa idzaa saaltumuhunna mataa’aan fas aluhunnna min waraai hijaabin dzalikum athharu liquluubikum wa quluubihinna …. Apabila kamu meminta sesuatu (keperluan) kepada mereka (istri-istri Nabi), maka mintalah dari belakang tabir. (Cara) yang demikian itu lebih suci bagi hatimu dan hati mereka. (QS. Al-Ahzab : 53)
Ketika kita mencermati muatan ayat tersebut di atas, maka sangatlah jelas bahwa hijab adalah menghindari dari terjadinya dosa dan fitnah, dan kesemuanya ini telah ditekankan pada hijab dan penutup tubuh wanita untuk kebersihan dan keselamatan masyarakat. Masih terdapat banyak poin-poin tentang hijab dari ayat yang lain dalam Al-Quran yang dikarenakan pembahasannya akan dialihkan ke topik yang lain maka kami tidak memberikan penjelasannya.
Hijab dalam Hadis-Hadis dan Budaya Ahli Bait         
Adapun Al-Quran yang merupakan Tsaql Akbar dan juga amanat besar ilahi, menjelaskan bahwa penutup atau hijab wanita adalah merupakan satu tugas dan tanggung jawab, dan juga di dalam hadis-hadis ahli bait yang dikenal sebagai  Tsaql Ashgar dan tafsir Quran menjelaskan tentang hijab. Efaf atau penutup bagi wanita secara detail yang sebahagian dari hadis tersebut dapat kita tunjukkan sebagai berikut: Imam Ali kw berkata dalam suratnya kepada anaknya Sayyidina Hasan; wakfuf  ‘alaihinna min absharihinna bihijaabika iyyahunna fainna syiddata alhijaabi abqaa ‘alaihinna … Wanita-wanita yang menutup wajahnya sehingga matanya tidak tertuju pada yang non muhrim (dan mata non muhrim tidak tertuju kepadanya) di sebabkan wanita-wanita yang ketat dalam berhijab akan lebih terjaga dari segala gangguan, dan ketika mereka keluar rumah tidak lebih buruk dari orang-orang non muhrim dan membawa orang lain yang tidak dapat di percaya kedalam rumahnya.(Bihar al-Anwar, Jilid 100).  
Imam Ali dalam perkataan nuraninya, di samping beliau menegaskan tentang hijab, juga menjelaskan dengan aspek khusus filsafat dan penyebab dari hijab tersebut yang juga melingkupi kekekalan, daya tahan dan pemeliharaan wanita dalam sorotan hijabnya dan juga mengisyaratkan topik dan tema  penting yang lain yaitu tidak memasukkan orang-orang yang tidak dapat dipercaya ke dalam rumah, dan juga tidak seharusnya teman-teman dan keluarga yang non muhrim banyak lalu lalang atau bolak balik di dalam rumah, demikian pula wanita terlarang baginya untuk lalu lalang di tengah  masyarakat tanpa memakai hijab.
Dalam hadis-hadis mengenai akhir zaman telah di ingatkan, di antaranya tentang wanita-wanita yang berbuat dosa dan fitnah dan telah menjadi cercaan adalah mereka yang hadir di tengah-tengah lelaki untuk menjual diri dan tanpa memakai hijab. 
Rasulullah SAW megabarkan bahwa azab bagi wanita-wanita yang berhijab buruk adalah demikian: Shinfaani min ummatii min ahlinnaari lam arahumaa … wa nisaa’an kaasiyaatun ‘aariyaatun…; Pada malam mikraj Saya menyaksikan dua kelompok dari penghuni neraka yang sebelumnya saya tidak pernah melihat serupa ini, dalam siksaan saya melihat, sejumlah wanita-wanita yang memakai pakaian-pakaian tipis dan menampakkan tubuh (setengah telanjang) dengan wajah-wajah yang tidak tertutupi, mereka ini tidak akan memasuki surga dan tidak akan sampai kepadanya bau surga padahal bau wangi surga tersebut dapat tercium keharumannya dalam jarak yang sangat jauh dan panjang.(Atsaar as-Shadiqiin, Jilid 3)
Azab Bagi Yang Berhijab Buruk             
Imam Ali kw berkata: Saya menemui Rasulullah SAW, dan saya melihat beliau dalam keadaan menangis, saya menanyakan penyebab beliau menangis. Rasulullah SAW berkata: Dalam malam mikraj, saya melihat sejumlah wanita-wanita dari umat saya  sedang dalam azab yang sangat dahsyat. Salah satu dari mereka seorang wanita yang rambut kepalanya digantung dan dia adalah wanita yang tidak menutup rambutnya di depan non muhrim, demikian pula saya melihat seorang wanita yang memakan daging dirinya sendiri dan dia adalah wanita yang berhias dan mempercantik dirinya untuk orang lain. (Wasail, Jilid 14)
Wanita-Wanita di Akhir Zaman
Sangat disayangkan bahwa salah satu dari tanda-tanda akhir zaman yang telah banyak di jelaskan dalam hadis-hadis adalah perihal keadaan menyedihkan wanita-wanita berhijab buruk pada zaman itu. Wanita-wanita dalam zaman itu, hadir di tengah-tengah masyarakat dalam suatu bentuk yang buruk, memolekkan dan mempercantik dirinya bukan untuk suaminya, dan memakai pakaian-pakaian yang setengah telanjang dan menampakkan tubuhnya.
Rasulullah SAW berkata: Halaaku nisaai ummatii filahmaraini adzdszahabu watstsayaaburriqaaqi. Terdapat dua penyebab yang menghancurkan umat saya, yang pertama adalah emas (perhiasan-perhiasan) dan yang ke dua adalah pakaian-pakaian tipis dan menampakkan tubuh. (Arsyaadu al-Quluub, Jilid 1). Berdasarkan inilah membuat wanita-wanita berhijab buruk dan bahkan lebih buruk lagi dari mereka yang tidak berhijab, hal ini mengisyaratkan tentang kebenaran-kebenaran dari kerusakan dan kebinasaan yang merupakan tanda-tanda akhir zaman dan juga kita lihat bahwa ketidakmaluan para wanita yang mempermainkan seorang lelaki, hal inilah yang menjadi sumber kekhawatiran Rasul Akram SAW dan sangat disayangkan bahwa sebagian dari wanita-wanita muslim yang terjun dan aktif ke dalam masyarakat, mereka selangkah lebih maju dari wanita-wanita barat dengan wajah yang dihias kental dan tebal serta berpakaian ringan dan sembrono, padahal mereka ini lebih merusak dan membinasakan dari pada wanita-wanita barat yang non hijab, dan hal ini adalah masalah yang sangat besar. Seorang wanita yang menyatakan dirinya muslim seharusnya dia tidak menodai dan menyakiti hati Rasulullah SAW dan jantung Imam ‘Ashr. Apakah memang tidak boleh seorang wanita muslim meneladani dan menokohkan Sayyidah Zahra dan Sayyidah Zaenab? Apakah dahulu beliau-beliau ini hijab dan pakainnya adalah demikian? Sayyidah Zaenab kubra dalam majelis Yazid di samping beliau menyatakan protesnya terhadap Yazid, beliau juga mengisyaratkan masalah hijab dan beliau berkata pada Yazid: Bagaimana prinsip kamu terhadap tirai kesucian sehingga kamu dapat terjaga dan terpelihara dari para non muhrim dan bagaimana pula  prinsip kamu mengarak para keluarga Rasulullah SAW dari kota ke kota sehingga setiap non muhrim menengok ke arah wajah-wajah mereka?
Aminal’adli yabnaththulaqaa’a takhdiruka haraairaka wa imaaaka wa sawquka banaati rasulillahi saw sabaayaa qad hatakta sutuurahunna wa abdaita wujuuhahunna, Wahai Yazid! Apakah ini berarti adil bahwa para wanita dan para kanizmu kamu tunjukkan dibalik tirai sementara putri-putri Rasulullah SAW kamu arak ke berbagai kota dan kamu jadikan mereka tawanan dan tirai hijab mereka kamu koyak, melepaskan cadar-cadar mereka dari wajahnya?!(Hayaatu al-Imam Husain, Khotbah Hadhrat Zaenab di Syam)
Penegasan Rasulullah SAW Tentang Hijab
Rasulullah SAW selain menyarankan secara tegas terhadap pentingnya menghindari berhijab buruk, beliau juga memperhatikan dalam tingkatan  amal, Ummu Salamah salah satu dari istri-istri Rasulullah SAW mengatakan: Saya dan Maemunah istri yang lain dari Rasulullah SAW setelah sampai kepada kami tentang perintah berhijab, kami menemui Rasulullah SAW yang ketika itu pula anak dari Ummu Maktum (yang matanya buta) memasuki ruangan kami, Rasulullah SAW berkata: Ihtajibaa; tutuplah diri-diri kalian. Saya mengatakan: Wahai Rasulullah! Dia adalah buta (dia tidak akan melihat kami). Beliau berkata: Afa’umyaa wa in antuma? Apakah kalian juga buta (dan kalian tidak melihat dia)? Jadi telah jelas bahwa menjaga hijab dan tidak melihat, tidak terbatas dan terkhusus pada lelaki saja bahkan wanita juga harus menjaga mata dan tubuhnya di hadapan lelaki. (Diterjemahkan oleh Ummu Jausyan)

Lebih Lanjut... »»